Pelaut bisa jadi kalah Play Boy -nya dengan Aceng yg menjabat sebagai Bupati Garut ini,
Akhir-akhirnya nama "Aceng" menjadi popular keyword di mesin pencari Google, setelah heboh pernikahan singkat 4 hari saja dengan si cantik Fani Oktora begitunya dengan blog Berita Kapal ini mendapat kunjungan lumayan besar dari pengunjung yg sedang mencari berita terkini kasus Aceng dan Fani Oktora ini, namun ternyata sebelum dengan Fani Oktora yg heboh ini, sang Bupati Garut Aceng sudah pernah menikah dengan Shinta Larasati juga hanya 2 bulan saja.
Akhir-akhirnya nama "Aceng" menjadi popular keyword di mesin pencari Google, setelah heboh pernikahan singkat 4 hari saja dengan si cantik Fani Oktora begitunya dengan blog Berita Kapal ini mendapat kunjungan lumayan besar dari pengunjung yg sedang mencari berita terkini kasus Aceng dan Fani Oktora ini, namun ternyata sebelum dengan Fani Oktora yg heboh ini, sang Bupati Garut Aceng sudah pernah menikah dengan Shinta Larasati juga hanya 2 bulan saja.
sumber: TVOne
GILA! Ternyata sebelum
menikahi Fani Oktora selama hanya empat hari, Aceng Fikri yang diyakini
segera menjadi mantan bupati ini telah menikahi seorang mojang Karawang
bernama Shinta Larasati dan hanya berumur dua bulan saja. Coba lihat photo-foto pernikahan Aceng dengan Shinta Larasati diatas !
Akankah muncul korban-korban Aceng Fikri yang lain?
Seorang Bupati
di Garut, Jawa Barat, mencerai isteri (mudanya) hanya melalui SMS.
Sang isteri, bernama Fani (18 tahun) kini mengalami depresi. Peritiwa
ini sontak meletupkan kegaduhan. Berduyun-duyun orang melancarkan
protes. Lebih-lebih, kejadian ini melibatkan tokoh —tepatnya pejabat
publik, yang memimpin Garut.
Dalam
pengamatan terbatas, perkara ini selesai sebagai perdebatan seputar
kepatutan dan etika sahaja. Tentang tega-teganya mencerai isteri hanya
dengan selarik pesan SMS. Disertai kata-kata yang merendahkan pula. Di
televisi, betapa ringan sang Bupati Raja itu mengatakan bahwa ia kecewa
lantaran isterinya itu tidak perawan? Dan ia mengaku mati rasa. Atau,
betapa leceh memperlakukan seorang perempuan, bisa diputus hubungan
dengan cara seenaknya.
Semua
fakta-fakta itu, jika ditarik ke perspektif yang jauh, memperlihatkan
seonggok bukti tentang masih lekatnya budaya kuasa para raja.
Ya,
sejarah nusantara memperlihatkan noktah hitam tentang perilaku
menghargai perempuan sebagai (maaf) mainan. Apa yang dilakukan Bupati
Garut, segaris-seirama dengan apa yang menjadi hobby para Raja,
Mahapatih, Tumenggung, Senopati, Akuwu (di era kerajaan kuno), atau
bahkan para Demang (di zaman Kumpeni).
Para
petinggi di waktu yang telah lewat itu, mengusung kehormatan dan
wibawa kekuasaannya dengan bertumpu pada belasan atau ratusan tangis
kaum perempuan. Logika kekuasaan saat itu adalah: para raja dan
jajarannya, melengkapi simbol kekuasaannya dengan memperisteri sebanyak
mungkin wanita (muda). Akar tradisi yang menghunjam ke ulu hati para penikmat kekuasaan zaman kuno itu adalah: menjadi pejantan tangguh!
Sayangnya,
tradisi kekuasaan pejantan tangguh ini tak diikuti dengan karakter
ksatria, sebagaimana bisa kita lihat dalam epos kepahlawanan di berbagai
tempat. Seperti, misalnya, etos bushido di Jepang, yang menjadi jalan
para ksatria (the way of warrior).
Tentu
saja semua itu berangkai dengan pemujaan terhadap simbol-simbol
kejantanan (minus kekesatriaan) itu. Lalu tumbuh sebagai perilaku
bersama. Diterima sebagai suratan takdir. Tak ada upaya untuk membongkar
atau melucuti tabiat barbar itu. Perilaku leceh terhadap perempuan itu
bahkan tak dikenal sebagai aib
Tetapi
hari ini, kita menjerit marah, bahwa nyatanya garis sejarah itu tidak
putus. Sang Bupati seolah penjelmaan lengkap tentang pemimpin di dunia
modern tetapi dengan laku lampah pra sejarah!
Anakronik
Sebuah
anakronisme sejarah (pertentangan antara apa yang seharusnya terjadi
dengan realita yang terbukti), telah hadir. Rupanya, Republik Indonesia
belum benar-benar menjadi modern. Betapa dalam kanker sejarah gulita
itu mencengkeram mentalitas pejabat-pejabat kita. Mereka tak hanya
korup, rakus, dan dungu (sebagaimana para raja terdahulu). Tetapi
sekaligus juga mengabaikan hak-hak mendasar para wanita.
Meski
begitu, tetap saja peristiwa ini menghentak kesadaran. Banyak orang
yang melancarkan protes, demonstrasi, tandatangan keprihatinan, bahkan
usulan agar Bupati Raja itu dipecat
Dari
situasi ini, bolehlah kita menarik poin asumsi, misalnya dengan
menganggap bahwa modernitas di negeri ini gagal untuk mengubah mental
dan karakter (terutama para pemimpin). Modernitas dan kecanggihan
teknologi, semata hadir sebagai perangkat teknis belaka. Dan tidak
member wawasan baru apapun. Sebab gaya hidup mereka tetaplah feodal,
kuno, tribal, dan penuh nafsu angkara.
Hari Ini
Hari ini kita berharap
(dan wajib mengupayakan) agar ada hukuman setimpal terhadap Bupati
Garut yang sombong itu. Bukan apa-apa: dia melakukan kesalahan yang
berlipat-lipat dan maha berat. Sebagai tokoh publik, perilakunya pasti
menjadi pembenar bagi kalangan lain di bawahnya, untuk ramai-ramai
melakukan tindakan serupa (tak hormat pada seorang gadis). Tetapi yang
paling utama, Sang Bupati menyakiti nalar manusia beradab.
Bahasa
kekuatan harus diperlihatkan. Orang-orang yang berpikir waras, harus
menggalang kekuatan bersama untuk menghukum si Bupati. Gerakan perempuan
harus menjadikan ini contoh untuk kembali bangkit bersama. Begitu juga
media, aktivis, mahasiswa, tak boleh diam. Karena substansi persoalan
adalah begitu gawat. Pikir saja: bagaimana mungkin dia akan bertindak
beradab dalam hal-hal lain, sedangkan di perkara yang sakral saja,
berbuat semau diri.
Begitupun
tindakan hukum dan isu HAM harus menyeret Pak Bupati untuk
—-sekali-kali— tahu diri. Agar tak ada lagi pejabat publik yang
bertindak kotor seperti itu.
Di
bagian akhir, sungguh peristiwa ini tak boleh dibiarkan berlalu begitu
saja. Negeri ini sedang butuh etos kepemimpinan, keteladanan para
tokoh, dan panutan yang baik dari para penguasa. Karena di tangan
mereka sesungguhnya jalan nasib banyak orang dipertaruhkan. Lantas,
akan seperti apa moral generasi muda kita, jika kelakuan bejat semodel Bupati Garut kita kita tanggapi biasa-biasa saja?
Namun dengar-dengar Aceng sudah meminta maaf ke Fany Octora,
Bupati Garut, Aceng HM Fikri akhirnya meminta maaf ke Fany Octora (18),
mantan istri yang dinikahi siri hanya dalam 4 hari. Tak hanya Fany,
pihak keluarga juga menerima perimintaan maaf Aceng tersebut.
"Tidak ada maksud atau niat tidak baik. Mudah-mudahan dengan keikhlasan ini kita semua bisa saling menerima. Sebab tali yang kusut baik diluruskan sebagai tali silaturrahmi," ujar Ayi, perwakilan keluarga Fany saat bertemu dengan Aceng di Pesantren Al Fadilah, Desa Duwung Siru, Limbangan, Garut, Jawa Barat, Rabu (5/12/2012).
Ayi mengatakan, pihaknya berdosa jika tidak menerima permintaan maaf dari orang lain. Pihak keluarga Fany pun juga meminta maaf kepada Aceng atas kasus yang belakangan menjadi sorrota. Ayi pun berharap agar hubungan keluarga kedua belah pihak bisa terus baik.
"Kita inginnya seperti ini, karena memang tidak ada niat jelek. Dan dosa bagi kita kalau tidak memberikan maaf. Kita juga minta maaf atas kesalahan-kesalahan dari pihak kami. Mudah-mudahan setelah islah tidak berbuntut lagi. Kalau ada beberapa pihak yang mengingingkan seperti ini, biarkann saja. Yang penting kita menyambungkan silaturrahmi," ucapnya.
Sementara itu, terkait dengan laporan terhadap Aceng yang telah dilayangkan Fany ke Mabes Polri, akan segera dicabut.
"Yang pasti, setelah ini semua selesai, kita akan cabut tuntutan. Dengan adanya permintaan maaf ini, tidak ada alasan untuk menolak permintaan maaf yang sudah dilontarkan," katanya.
"Tidak ada maksud atau niat tidak baik. Mudah-mudahan dengan keikhlasan ini kita semua bisa saling menerima. Sebab tali yang kusut baik diluruskan sebagai tali silaturrahmi," ujar Ayi, perwakilan keluarga Fany saat bertemu dengan Aceng di Pesantren Al Fadilah, Desa Duwung Siru, Limbangan, Garut, Jawa Barat, Rabu (5/12/2012).
Ayi mengatakan, pihaknya berdosa jika tidak menerima permintaan maaf dari orang lain. Pihak keluarga Fany pun juga meminta maaf kepada Aceng atas kasus yang belakangan menjadi sorrota. Ayi pun berharap agar hubungan keluarga kedua belah pihak bisa terus baik.
"Kita inginnya seperti ini, karena memang tidak ada niat jelek. Dan dosa bagi kita kalau tidak memberikan maaf. Kita juga minta maaf atas kesalahan-kesalahan dari pihak kami. Mudah-mudahan setelah islah tidak berbuntut lagi. Kalau ada beberapa pihak yang mengingingkan seperti ini, biarkann saja. Yang penting kita menyambungkan silaturrahmi," ucapnya.
Sementara itu, terkait dengan laporan terhadap Aceng yang telah dilayangkan Fany ke Mabes Polri, akan segera dicabut.
"Yang pasti, setelah ini semua selesai, kita akan cabut tuntutan. Dengan adanya permintaan maaf ini, tidak ada alasan untuk menolak permintaan maaf yang sudah dilontarkan," katanya.
Berikut gambar, fhoto, photo, foto pernikahan kontroversial Bupati Garut Aceng dengan Istrinya, Fany, Shinta dari mesin pencari google.


Artikel ini di Posting : Ruly Abdillah Ginting ~ Berita Kapal
Terima Kasih sahabat telah membaca : Kisah Cinta Gaya Playboy Bupati Garut Aceng Silahkan membaca artikel lainnya tentang aceng,pelaut
di sini Berita Kapal & Pelaut
Anda bisa menyebarluaskan artikel ini, Asalkan meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya











{ 0 comments... read them below or add one }
Poskan Komentar